Senin, 04 Juni 2018

TOLERANSI

Beberapa minggu yang lalu saat di Kashmir, tepat di hari Minggu pagi, sebelum kami memulai tour, saya minta izin ke guide dan peserta tour untuk ibadah (ke gereja) terlebih dahulu. Singkat cerita si guide dengan senang hati mengiyakan sambil berkata: "Ayok ku temeni, aku sudah 27 tahun tinggal di Kashmir dan belum pernah sekalipun mampir ke gereja. Aku pengen tau berapa banyak umat Kristen di kota ini"

Akhirnya sampailah kami di gereja. Para peserta tour menunggu di dalam mobil (diseberang jalan gereja), sementara saya dan Amir si guide masuk ke gereja. Awalnya saya kira Amir hanya akan mengantar saya sampai ke pintu depan gereja, namun ternyata saya salah. Doi ikut masuk juga ibadah bareng saya 😊😊

Setelah ibadah selesai, saya tanya ke Amir "Tadi pak pendeta ngomong apa?"
Karena ibadahnya pake bahasa India dan saya ga ngerti sepatah katapun isi khotbah dr pak pendeta.
Si Amir jawab : "Pak Pendeta bicara tentang Iman. Iman itu dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang BELUM kita lihat"
Terus saya tanya lagi : "Kamu ga takut imanmu berubah karena ikut ibadah barusan?"
Terus dia jawab : "Oh tentu aja nggak. Saya malah bersyukur karena pendeta malah menguatkan imanku"

Lalu Kami kembali ke mobil dan peserta trip saya yg tidak seiman itu memeluk saya sambil bertanya: "Gimana Han? Lega? Seneng udah ibadah?"

Duuhh meleleh. Perhatian yg simple tp nyess banget di hati. By the way di Kashmir 97.16% warganya adalah muslim, 1.84% Hindu, 0.88% Sikh, 0.11% Buddha, dan 0,01% nya Kristen (info dari gugel). Saat beribadah di gereja Kashmir kemaren 99% wanita mengenakan Jilbab. Sementara yang 1% nya yaitu saya sendiri yang ga berhijab 😨😨
Jemaat di Kashmir
Sedikit berbeda dengan Kashmir, beberapa hari lalu, saat di Bolivia, rekan saya pamit pengen ke mesjid untuk taraweh dan saya ngotot pengen ikut. Di Bolivia hanya ada 2 mesjid dengan 0,01% warganya yang beragama muslim. Tempatnya sangat kecil dan hanya ada 3 orang di mesjid tersebut. Saya ikut masuk kedalam sambil menunggu mereka shalat. By the way nama mesjid nya keren "Jesus (Isa) hijo de Maria" yang artinya "Yesus Putra Maria"
Mungkin kalau di Indonesia ada mesjid dengan nama begini bakal jd kontroversi dan polemik berkepanjangan 😂😂😂
Plank nama di mesjid Bolivia
Lain lagi ceritanya saat saya berkunjung ke Manila beberapa hari yang lalu. Saya nginap di salah satu perkampungan muslim di Manila lokasinya di daerah Quiapo. Disana ada sebuah masjid bernama Quiapo Golden Mosque. Yang menarik dari masjid ini adalah profile picture dari fanspage masjid ini.
Yesus cinta kita semua 😊😊
Akhir-akhir ini saya sangat sedih ngeliat keadaan negara kita yang super sensitif terutama mengenai agama. Beberapa ceramah para pemuka agama yang ga segan-segan mengkafirkan orang. Yang mengatakan darah orang kafir ‘halal’ dan ujaran kebencian lainnya.Komentar-komentar di medsos yang ga terkontrol. Yang paling sering saya dapati adalah komentar yang  menjelek-jelekkan Yesus.  Orang-orang yang sering berkomentar jelek seperti ini biasanya mainnya kurang jauh.

Banyak juga contoh lain misalnya ada org non muslim yang pake hijab terus berbondong-bondonglah itu netizen Indonesia mengomentari "Subhanallah yaa ukhti cantik banget. Semoga dapat hidayah dengan hijabnya. Diih koq bukan muslim pake hijab? Penistaan agama nih, dll" Padahal yang dikomentari orang Thailand dan ga ngerti bahasa indonesia sama sekali. *Saya screenshot salah satu contohnya dibawah*





Netizen berantem ga ada habisnya

Sampe puncaknya rentetan bom yg terjadi beberapa hari yang lalu. Kita ga bisa nutup mata dengan mengatakan "Mereka (teroris) itu tidak beragama" karena faktanya jelas sekali "Mereka itu beragama. Agama mereka islam" Namun keimanan mereka terhadap islam salah. Islamnya mereka tidak semenyejukkan Guide saya si Amir, peserta tour saya, rekan saya, dan teman-teman dekat muslim saya lainnya. Ga hanya umat islam. Umat Kristen dan agama lain juga banyak yang kehidupan beragamanya bukan menjadi berkat malah menyusahkan orang lain. Banyak loh pastor/ pendeta/ biksu/ dan pemuka agama lain yang radikal. Bukannya menyebarkan kebaikan malah menebar kebencian. Cuma bisa ngelus dada kalau nemu orang yg seperti ini.

Inti dari tulisan yang panjang ini adalah yukk lah kita jdi umat beragama yang menyejukkan, menjaga toleransi, kalau ga bisa bikin damai setidaknya jangan bikin kacau.
Udah itu aja, capek ngetiknya. Selamat menjalankan ibadah puasa untuk semua rekan muslim saya. Semoga ibadahnya lancar. Yukk kita sama-sama mendoakan bangsa kita ini 😚😚

2 komentar:

  1. suka sama quote-nya kak. 'Kalau gak bisa bikin damai, setidaknya jangan bikin kacau'..

    BalasHapus