Sabtu, 15 Juli 2017

Tentang Nilai

,
Saya terlahir dengan kondisi orang tua khususnya bapak saya yang berorientasi pada nilai atau angka. Sejak kecil kami semua di intimidasi dengan ucapan "kalian harus bisa juara di sekolah, kalau ga bisa juara satu, yaa minimal tiga besar lah. Garis keturunan oppung kita ga ada yang bego!" Untuk memenuhi ambisi tersebut biasanya menjelang ujian bapak saya selalu mengiming-imingi kami dengan hadiah. Misalnya kalau nilai rapornya ada angka 8 atau 9 bisa ditebus dengan memberi sejumlah uang, atau membelikan mainan yang kami inginkan, atau hal lain yang telah disepakati bersama. Ditambah lagi biasanya kami selalu di pudding saat ujian (sarapan harus minum susu, makan rebusan telur ayam kampung setengah mateng padahal kan makan telur setengah mateng cuma waktu mau ujian doang mana mempan bikin orang mendadak pinter, dan uang jajan dilebihin - padahal kalau ujian kan pulangnya cepat banget dan ga sempat jajan) Hahhaha. Karena masih anak-anak dan belum ngerti apa-apa, iming-iming yang ditawarkan bapak saya jelas sangat menggoda. Bayangkan 1 angka 8 bisa ditebus 1 mainan atau duit yang setaranya, kalau angka 8 nya ada 5 biji? Ohh mungkin saya bisa bangun candi, begitu pikiran saya waktu itu. Sebaliknya kalau ada nilai merah yaitu angka 5 atau 6 biasanya kami akan di hukum. (Jaman dulu istilahnya nilai merah, kalau jaman sekarang istilahnya diganti jadi tuntas/tidak tuntas, terlampaui/tidak terlampaui dan sejenisnya).

Kebetulan saya terlahir nggak terlalu pintar tapi ngga bodoh-bodoh amat juga. Hahaha. Yang pintar abang saya. Padahal ga pernah belajar, tapi bisa selalu diurutan 3 besar. Sementara saya harus berjuang habis-habisan dulu baru bisa 3 besar. Itu juga ga pernah dapet. Jangankan 3 besar, bisa masuk 10 besar aja rasanya terharu banget. Saya masih ingat banget waktu SMP saya dan abang saya pernah dikurung dikamar karena ada 2 angka merah di rapor saya. Abang saya yang saat itu ranking 3 besar juga ikut-ikutan di kurung. Alasan bapak saya "abang saya membawa pengaruh buruh untuk saya karena ngajak main terus dan ga bisa mendidik saya menjadi adik yang pintar". Masih untung lah yaaa saya cuma dikurung, abang saya malah disebat dulu pake sapu lidi sampe kakinya baret-baret lalu dikurung. Mbuhlah pokoknya sakarep bapak saya tentang hukumannya -___-

*Kejadian ini udah puluhan tahun yang lalu, tapi saya masih ingat jelas sampe sekarang. Geli juga kalau di ingat. Hahhahaha.

Bersyukur saat SMA saya LDR dengan bapak saya. Ntah apa penyebabnya waktu itu saya dipindahkan ke Medan. Meski sudah jauh dari bapak, namun nilai-nilai yang beliau tanamkan ke saya tetap nancep. Saya selalu dibayang-bayangi nasehat menakutkan dari bapak tentang pencapaian nilai. Saya harus berubah, saya ga boleh ngecewain bapak. Saya harus dapat nilai bagus. Minimal 10 besar lah, begitu janji saya dalam hati. Hidup di Medan keras, kawan! Meski saya udah berjuang dan belajar sunggu-sungguh yaa tetap saja saya belum bisa memenuhi standard nilainya bapak. Untung saat SMA saya sudah mulai picik. Demi mempertahankan nilai-nilai saya agar sesuai standard bapak, saya meminta bala bantuan dari teman-teman sekelas. Kebetulan teman sebangku saya pintar, saya manfaatkan beliau. Waktu ujian juga saya selalu memanfaatkan kepintaran akademik teman-teman saya untuk membantu saya (baca : memberikan contekan). Akhirnya saya lulus dengan predikat dibantu teman. 

Menjelang memasuki dunia kuliah, bapak saya kembali berulah. 
"Pokoknya kalian harus kuliah! Tuntut ilmu setinggi-tingginya! Kalau bisa S3, kenapa hanya sekedar S2? Mungkin bapak ga bisa menyekolahkan kalian tinggi-tinggi, tapi kalau kalian berusaha, bapak yakin pasti ada jalan"
Yaa nasehat ini beliau sampaikan atas nama 'ketidaksanggupan beliau untuk menguliahkan saya'. Saat itu kondisi ekonomi keluarga sangat memprihatinkan. 3 orang abang saya yang sempat menunda kuliah beberapa tahun sebelumnya, mendadak minta kuliah ditahun tersebut. Sehingga saya yang dianggap masih muda harus mengalah dulu demi abang-abang saya. Meski saya ga pinter-pinter banget, tapi saya punya niat untuk sekolah. Demi apa?? Yaa demi ambisi bapak saya terwujudlah. Menurut ngana? Hahhahaha. Singkat cerita saya bisa melanjutkan pendidikan. Saya kuliah atas biaya saya sendiri dengan dibantu 200rb untuk membeli formulir pendaftaran pake uang bapak. Sisanya saya berjuang sendiri. Saya mendapat beasiswa hingga lulus. Di titik ini saya merasa sedikit bangga dengan diri saya. Hahahhaha.

Meski lulus Sarjana dengan nilai memuaskan, hal ini tak lantas membuat bapak saya puas. Beliau masih terus saja mendorong saya untuk melanjutkan S2. Saya sih ga pinter, tapi saya berani! Atas nama gengsi dan tertantang dengan ambisi bapak, akhirnya saya mulai survey-survey biaya S2 di beberapa kampus di Batam. Rata-rata biaya S2 itu kisaran 40 - 60 jutaan (biaya masuk hingga lulus). Saya ceritakan ke Bapak saya tentang biaya tersebut, alih-alih mau membantu dana, bapak saya malah cuma ngomong "kamu pasti bisa" Yaaa kali pak tapi duitnya dari mana? 😒😒

Salah seorang mantan dosen saya mendorong saya untuk melanjutkan kuliah, beliau menawarkan solusi yang sebetulnya bukan solusi sih. "Kamu gadaikan aja motor kamu, Han. Nah itu kan bisa buat uang pangkal untuk masuk S2, nanti sisanya bisa cicil-cicil lah. Bapak yakin kamu pasti mampu" kata dosen saya ini. Akhirnya saya turutin saran sang dosen. Saya gadaikan motor saya dan pembayarannya dengan sistem cicilan, sambil saya melanjutkan hidup dan ambisi-ambisi bapak saya. Singkat cerita saya bisa lulus S2 dengan mulus dan tepat waktu serta nilai yang nyaris sempurna. Beberapa kali malah saya mendapat IPK sempurna, di titik ini saya berharap bapak saya puas dengan apa yang telah saya capai, eeh nyatanya BELUUMM, sodara-sodara!! Bapak saya masih pengen saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Coba kalau kalian pengen iseng sms bapak saya, tanyain "Kalau bapak mau milih, bapak milih Hana ngelanjutin S3 atau Hana nikah dulu" Pasti jawabannya ngelanjutin S3. Hahhahahahah..

Lelah? Bangettt, gaes! Suatu ketika bapak saya nyeletuk "Han, ga mau langsung lanjut S3? Mumpung masih mudah dan otaknya masih bisa mikir?" Dengan enteng saya jawab "Enggak ahh, nanti dulu. Masih capek. Ijazah yang dari SMA, S1, dan S2 sekarang aja belum jelas mau dipake untuk apa". Maha benar yaa ungkapan pepatah "Yang penting kuliah, bisa lulus, nilai bagus, masalah ijazah kepake atau nggak urusan belakang! Yang penting bapak-ibu senang!"

Tipikal orang yang berorientasi nilai seperti ini saya yakin ada banyak, bukan hanya bapak saya saja. Apa yang ingin saya sampaikan dari kisah sepanjang ini adalah bahwa tidak semua anak terlahir dengan kecerdasan akademik. Seringkali orang tua memaksakan anaknya untuk mencapai nilai-nilai sesuai dengan standard orang tua, padahal si anak sudah berjuang sekeras apapun ga mungkin bisa mencapai standard tersebut. Masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa kesuksesan bukanlah tentang nilai/angka yang tertulis di laporan akademik, lebih dari itu, bisa jadi suatu kelak nanti anak-anak kalian adalah ahli musik, atlet, pelukis, dan lain-lain. Ahli musik ga perlu paham rumus molekul senyawa. Pelukis juga ga perlu pusing mikirin rumus integral. Apalagi untuk menjadi traveler seperti saya? 😛😛😛

Kebetulan kemren saya nemu video bagus banget, bisa ditonton disini 👇👇👇
https://www.facebook.com/781587481894458/videos/880325688687303/

Pendidikan di Indonesia yang mewajibkan anak-anak mempelajari semua hal juga sangat tidak berguna menurut saya. Buat apa coba kita capek-capek belajar Kimia, fisika, akuntansi dalam waktu berbarengan? Di satu waktu siswa diwajibkan menghapal rumus molekul, di waktu bersamaan juga harus memecahkan persoalan matematika yang complicated. Saat lulus ilmu-ilmu yang dipelajari itu ga tau mau diapakan. Untuk saya yang setelah tamat SMA nya langsung terjun ke dunia pendidikan (guru bimbel) ilmu-ilmu itu jelas berguna untuk mengajarkan adik-adik lain yang terjerat di masalah pendidikan seperti yang pernah saya alami sebelumnya, yaa tapi ga semua orangkan jadi guru bimbel? 😇😇😇😇

Saya mau berbagi pengalaman sedikit. Dulu, saya pernah mengajar anak dengan keterbelakangan mental atau autis (eeh apalah itu istilahnya). Di usia 5 tahun si anak tersebut masih belum bisa jalan, suka tiba-tiba emosi atau marah-marah dan menyerakkan semua benda yang ada disekitarnya, boro-boro bisa nulis, menggenggam pensil aja belum bisa. Pada saat orangtuanya menghubungi saya, beliau tidak menceritakan kepada saya mengenai kondisi anaknya. Beliau hanya mengatakan saya untuk datang kerumahnya, mengajari anaknya dan mengiming-imingi saya dengan bayaran mahal, dan dibayar diawal pulak. Karena sudah terjebak, mau tidak mau saya harus memenuhi tanggungjawab saya. Kesabaran saya benar-benar di uji saat itu. Dengan segala keterbatasan si anak, Orangtuanya ngotot anaknya harus bisa baca tulis di usia 6 tahun, dan bisa masuk SD di usia tersebut, ga peduli gimana caranya. 😌😌😌

Orangtuanya memberikan kepercayaan penuh kepada saya dan untungnya kami diberikan ruang belajar khusus, jadi setiap belajar ruangan tersebut saya kunci. Awalnya sangat sulit dan benar-benar harus extra sabar. Butuh waktu beberapa hari hanya untuk sekedar mengajarinya menggenggam pensil. Singkat cerita kedekatan emosional saya dengan si anak mulai terbangun. Pelan-pelan si anak mulai mau belajar. Tapi banyak hari yang kami habiskan sangat tidak berfaedah. Hahhaha. Kadang si anak tiba-tiba ngantuk dan ngajak saya tidur siang dulu baru belajar, dan malah kebablas tidurnya, kadang juga si anak merengek minta dipesenin pizza dulu ke mamanya baru mau belajar, eh padahal setelah pizza datang kami hanya makan sambil ngobrol-ngobrol dan ga belajar sama sekali. Satu hal yang paling membuat saya senang adalah inisiatif dari si anak yang mengharuskan kondisi kulkas di ruang belajar senantiasa penuh dengan cemilan. Good Job, nak!! Hahahahah.

Anaknya suka makan dan cerita, dan ga bodoh juga menurut saya. Daya khayalnya tinggi sampe ke langit. Saya selalu merasa terhibur dengan cerita khayalannya. Kalau lagi waras, dalam durasi 1jam les tersebut, 20 menit kami gunakan untuk belajar, 40 menit kami gunakan untuk mendengarkan ceritanya sambil ngemil. Kalau lagi ga waras, sejam penuh kami tidur, atau cuma main. Sesuai target orangtuanya di usia 6 tahun si Anak sudah lancar membaca dan menulis, serta berhitung sesuai standard anak SD jaman sekarang. Saya merasa itu pencapaian terbaik saya selama ini. Sekarang saya ga tau gimana keadaan si anak. Semoga saja dia sudah menjadi story teller yang handal. Amin.

Yuk para mamah tua, mamah muda dan mamah wannabe, jangan paksakan anak anda untuk meraih standard nilai seperti maunya anda. Biarkan mereka bahagia di usianya. Tugas kalian adalah menerima mereka sebagaimana adanya mereka. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang melimpah dari orang tua saya yakin bakal tumbuh menjadi anak-anak yang sukses. Eeh tapi saya belum berumah tangga, saya belum pantas ngomongin dunia parenting , saya cuma pengen berbagi apa yang pernah saya alami 💟💟💟

1 comments:

  • 17 Juli 2017 17.44
    mardaud says:

    Akhir cerita yang sangat bagus... Terima kasih atas tulisannya... (y)

Posting Komentar

 

All about Me Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates