Minggu, 23 Oktober 2016

Yiwu, Surga Belanja Yang (Tak) Dirindukan

Saya Hanna Ester, gadis yang tak terlalu suka dengan gemerlapnya dunia mall. Jika gadis-gadis lain seperti kesurupan ketika masuk mall, melihat sale 80% + 20%, atau rela bangun pagi-pagi buta demi tenggelam dalam jubelan manusia Morning Sale, atau  merasa seperti 'hidup baru' pasca keluar dari mall dengan tentengan penuh ditangan kanan dan kiri, saya malah sebaliknya. Hal-hal yang seperti itu tidak terlalu menarik bagi saya. Beruntungnya calon suami saya kelak. #Eehhm. Ditambah lagi zaman sekarang ini semua serba gampang. Mau belanja? Tinggal klik. Sambil masak-masak dan baca-baca komen di fanspage Jonru, barang pesanan tiba-tiba saja sudah dianter ke depan rumah. Aaah indahnya. 

Kunjungan saya ke Amerika Timur dua minggu yang lalu menyisakan banyak penyesalan di hati teman-teman saya. Iya, yang menyesal teman-teman saya, bukan saya. Mereka menyayangkan mengapa saya ga mau dititipin barang-barang branded khas Amerika? Harusnya bistip (bisnis titipan) seperti itu bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengisi pundi-pundi kas saya, ujar mereka sambil menghela nafas panjang. Hmm. Satu-satunya alasannya yaa itu, barang di Amerika mahal saya males ke mall!! Tapi waktu di Amerika kemaren bukan berarti saya tidak masuk mall sama sekali, loh ya. Masuk juga, tapi pas keluar sama seperti pas masuk - Membawa nama baik. #Eaakk. 

Satu-satunya yang saya beli di mall Amerika kemaren adalah sepatu. Eehh ralat, bukan saya beli sih, tapi dibeliin. Hahhahaha. Sepatu ini adalah sepatu termahal saya sejauh ini. Dengan sepatu baru ini kadar percaya diri saya meningkat sekian persen. Sepatu ini juga berhasil membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Tidak lagi terlalu sering selfie dengan muka sepenuh layar handpone. Objek foto saya sekarang berpindah ke sepatu. Siapapun yang saya minta untuk motoin selalu saya bilang "Fotonya sampe kebawah, nampak'in sepatunya yaa!" See??
Difoto dengan gaya pura-pura ga ngeliat kamera masih menjadi trend hingga saat ini. Tolong fokus ke sepatunya :)
Setelah balik dari Amerika, perjalan saya selanjutnya adalah china. Kali ini kota yang ingin saya kunjungi adalah Yiwu. Mungkin untuk kalian yang hobinya ngomongin dan ngurusin hidup orang lain, Kota Yiwu ini tidak terlalu familiar. Namun bagi pebisnis, pelaku expor-impor, dan pedagang-pedagang besar, kota Yiwu ini sudah tidak asing lagi. Yiwu adalah kota perdagangan internasional terbesar di China. Berasa dejavu, saat mau check in di Bandara JFK (John F Kenedy, New York), saya melihat baliho besar tentang Yiwu.

Pantes sebagian besar barang yang dijual di mall-mall besar Amerika made in China, belanjanya di Yiwu sih :)
Untuk sampai ke Yiwu bandara terdekatnya adalah melalui Hangzhou. Dari bandara Hangzhou anda bisa naik bus langsung ke Yiwu dengan waktu tempuh sekitar 2 - 3 jam (tergantung macet tidaknya jalan). Bus terakhir beroperasi jam 10.30 malam. Jika anda mendarat tengah malam dan tidak keburu naik bus, anda juga bisa menuju Yiwu dengan kereta. Caranya: dari Bandara naik bus menuju stasiun kereta (sekitar 30 menit), dari stasiun ke Yiwu hanya 30 menit dengan kereta cepat atau 2 jam dengan kereta biasa. Stasiun kereta buka 24 jam dan keberangkatan terakhir ada di jam 2.30 subuh. (Maaf saya lupa nama stasiunnya, akan saya edit secepatnya kalo sudah ingat lagi).

By the way, sebelum saya lanjutkan cerita, saya ingin jelaskan dulu situasi Yiwu. Jadi Yiwu ini benar-benar dikhususkan sebagai kota belanja, ga ada wisata lain selain wisata belanja. Luas pusat perbelanjaannya sekitar 4juta m2, terdiri atas 5 distrik, lebih kurang 62.000 toko, 100.000 penjual dan 400.000 jenis produk yang diperjual-belikan. Yiwu Market beroperasi dari pukul 9 pagi sampai 5 sore. Karena luasnya, untuk berpindah dari satu distrik ke distrik lainnya harus naik mobil, kalau jalan kaki dipastikan betis membengkak. Tapi jangan khawatir! Pengelola atau pemerintah sudah menyediakan shuttle bus gratis yang beroperasi hingga pukul 4 sore. Masing-masing distrik mempunyai spesialisasi barang, bisa dilihat digambar berikut: 
Barang-barang di district 1 
Barang-barang di district 2
Barang-barang di district 3
Barang-barang di district 4
Barang-barang di district 5
Hari pertama di Yiwu, tujuan pertama kami adalah distrik 3 yang letaknya persis didepan penginapan. Saya masih sangat excited mengenakan sepatu baru saya ini. Seolah ingin menunjukkan kepada seluruh warga Yiwu bahwa sepatu saya ini belinya di Amerika. Gaya jalan juga sengaja saya atur sedemikian rupa demi eksistensi sepatu baru saya. District 3 tidak terlalu menarik buat saya karena barang-barang yang dijual berbagai kosmetik dan stationary gitu. Lalu kami bergerak menuju district 4. Di district 4 saya mulai tercengang-cengang sambil tak henti-hentinya mengucapkan "wuiih murah, wuiih murah, wuiih murah". Rasanya semua pengen dibeli. Di district 4 ini pusatnya perlengkapan winter yg lucu-lucu, mulai dari longjohn, scarf, sarung tangan yang lucu-lucu, kaos kaki, jaket bulu angsa, sepatu segala rupa, dll. Kami berkeliling menyusuri toko demi toko. Kemudian langkah saya terhenti disebuah toko yang menjual sepatu yang sama persis dengan sepatu kebanggan yang sedang saya kenakan saat itu. Kerongkongan saya tercekat saat tahu harganya hanya 19 Yuan atau senilai 38ribu rupiah. Sakit sekali rasanya. Ingin teriak sekuat-kuatnya. Tuhan ini ga adil :'( 

Setelah mengalami peristiwa tragis tersebut, saya langsung lemas dan ingin pulang saja. Ditambah lagi keadaan tubuh yang masih jetlag parah. Akhirnya kami kembali ke penginapan, padahal berangkatnya jam 11 dan saat itu baru jam 2 siang. Kejadian itu membuat saya tidur pulas hingga 16 jam. #terus apa hubungannya, han? Gaa tauukk -___-

Hari kedua dalam kondisi yang sudah lumayan segar kami kembali melakukan penjelajahan. Tujuan kami kali ini adalah district 5. District 5 ini gudangnya onderdil kendaraan. Ada motor listrik yang lucu dan belum ada di Indonesia juga disini. Pengen beli tapi bawanya susah, ongkirnya mayan. Hehhe. Saya sih ga betah ditempat beginian, ga tau kalo Mas Anang. Berbeda dengan saya, si doi semangat bener di district 5 ini. Hampir 5 jam kami menghabiskan waktu hanya untuk nyari angel eyes mobilnya doi. Dapat angel eyes nya? Yaa dapetlah, wong semua barang di Yiwu available. Tappiiiii...... Harus beli minimal 50 biji. #Kriiikk. Wasting time bgt kan? Eehh nggak deng. Semua waktu bersamamu ku anggap berkualitas koq. #Ngiiiikkk. 

Hari ketiga kami lanjutkan penjelajahan ke district 2. Rencananya cuma mau beli koper besar lalu nanti di isi dengan barang-barang yang telah kami survey untuk dibeli di hari sebelumnya. Beli koper beres, saatnya kembali ke district 4 untuk beli baju dan sepatu. Seketika mimpi kami untuk membawa barang-barang incaran harus pupus karena ada minimal pembelian untuk setiap barang (tergantung jenis barangnya, mulai dari yg terkecil minimal 30 pcs), ditambah lagi stock barang tidak tersedia saat itu juga, harus menunggu diambil dulu ke gudangnya. Padahal esok harinya kami sudah harus kembali pulang. #KriiikKrriikkkk.

Untuk mengobati kekecewaan hati saya karena ga berhasil membeli barang yang saya inginkan, si doi memperkenalkan saya ke situs belanja online termurah sejagat, yaitu 1688.com dan taobao.com. "Udah ga usah ngambek, nanti ku kasih tau barang yang lebih murah dari Yiwu ini dan bisa tinggal klik-klik tanpa perlu capek-capek. Ga pake minimal order lagi" Dan benar saja, ternyata barang-barang disitus online tersebut tidak jauh berbeda dari barang yang ada di Yiwu bahkan beberapa barang malah lebih murah. Eeehh jadi ngapain kita jauh-jauh kesini, bang??????? -______-

Tips menikmati wisata belanja di Yiwu:
  1. Transportasi di Yiwu jauh lebih murah dari Beijing atau kota-kota di China lainnya. Misalnya tarif taksi di Beijing untuk sekali buka pintu 14 Yuan, di Yiwu hanya 6 Yuan setelah itu 0,5 yuan per km. Kalau pengen lebih murah lagi silahkan naik bus atau kereta, tarifnya mulai dari 1,5 Yuan. 
  2. Siapkan alas kaki yang enak dipakai karena butuh kaki yang kuat dan alas kaki yang nyaman untuk menjelajahi seluruh sudut district.
  3. Butuh waktu semingguan untuk menjelajah semua toko-toko yang ada disana. Jika anda hanya melakukan kunjungan singkat, sebaiknya langsung fokus ke district sasaran (jenis barang di masing-masing district bisa dilihat pada gambar diatas)
  4. Harga yang ditawarkan penjual sebenarnya sudah sangat murah, tetapi kita masih berkesempatan untuk menawar barang. Pinter-pinterlah nawar
  5. Belanja di Yiwu ini memang dikhususkan untuk orang-orang yang akan menjual kembali barang-barang yang dibeli. Oleh sebab itu penjual membuat syarat minimal pembelian untuk setiap item barang. Ada baiknya sebelum membeli kalian sudah harus tau terlebih dahulu barang apa yang ingin kalian beli dan berapa jumlahnya agar waktu yang kalian habiskan juga tidak terbuang sia-sia.
  6. Barang-barang yang terpampang di toko tersebut hanyalah sample/barang contoh. Mereka harus mengambil barangnya dulu ke gudang saat kalian ingin membeli. Bisa jadi anda bisa mendapatkan barang tersebut hari itu juga, atau anda disuruh kembali lagi keesokan harinya.
Sekian cerita dari saya. Semoga bermanfaat. Selamat berlibur ke Yiwu ^_^

Sabtu, 22 Oktober 2016

Lika-Liku Mengurus Visa Mauritius

Mauritius adalah nama sebuah negara kepulauan yang terletak di Samudera Hindia, sebelah tenggara Benua Afrika atau sekitar 900 KM sebelah timur Madagaskar (kata Wikipedia) atau 560 km (kata link berikut). Ntah informasi mana yang benar. Aah sudahlah. Itu ga penting. Keisengan saya untuk ke Mauritius berawal dari dibukanya rute baru oleh Airasia untuk penerbangan dari Kuala Lumpur ke Mauritius seharga Rp 600ribuan saja sekali jalan. Whaattt, Modal 600ribu bisa ke Afrika??? Siapa yg kuat dengan cobaan seperti ini? Singkat cerita, di suatu malam yang gelap tanpa bayang-bayang bintang dan mantan, dalam kondisi susah tidur, tangan lihai saya bekerja cepat mengissued tiket tersebut. 

Peristiwa ini terjadi tanggal 3 September yang lalu
Sebelum issued tiket tersebut saya kira ke Mauritius ga butuh visa karena setahu saya sebagian besar negara di bagian Afrika sana bebas visa untuk kita pemegang paspor hijau. Ternyata saya salah. Lagi-lagi sifat ga terlalu peduli apa-apa dan males kroscek terlebih dahulu membuat saya harus menerima kenyataan pahit ini. Setelah  googling sana-sini sedikit sekali informasi yang bisa saya temukan tentang pengurusan visa Mauritius. Ditambah lagi alamat kedutaan Mauritius di Indonesia yang tercantum di Google telah berubah fungsi menjadi salon kecantikan. Dalam keadaan hampir putus asa saya kembali mencari. Saya menemukan 2 blog orang indonesia yang pernah menceritakan tentang perjalanannya ke Mauritius, yang pertama blognya mba Yelnawati Aslim dan yang kedua blognya om Cecep Em-Ha. Saya yakin bukan cuma mereka berdua yang pernah ke Mauritius. Mungkin banyak orang Indonesia yang sudah pernah kesana tapi tidak menuliskan kisah perjalanan mereka. Itu sebabnya saya merasa terpanggil untuk menuliskan ini. 

Dari blognya Mba Yelnawati saya tidak menemukan sedikitpun informasi bagaimana cara pengurusan visa Mauritius. Saya berusaha mencari kontak beliau melalui beberapa jejaring media sosial seperti facebook, twitter, google plus, dan akhirnya menemukannya di Instagram. Yang membuat saya senang ternyata doi warga Batam (info ini saya dapat dari blognya), Seolah merasa menemukan teman sekampung saya langsung mengirimkan pesan ke beliau. Yang membuat saya sedih, ternyata pesan saya sampai saat ini belum juga di bales -____- Hidup bisa sekejam ini, kawan :( 

Kembali berusaha, saya mencari informasi melalui blog om Cecep Em-Ha. Saya senang karena berhasil mengontak beliau di Facebook dan di respon. Tapi saat tahu bahwa pengurusan visa beliau dulunya semua dilakukan oleh kantor yang artinya dia ga tau sama sekali bagaimana prosedur pengurusan visanya, saya kembali sedih. Koq gini-gini amat -___-

Akhirnya saya mencari kembali. Saya bertanya ke orang-orang yang saya anggap jam terbangnya lebih tinggi dari saya. Ada yang bilang ngurus visa Mauritius bisa melalui embassy UK. Lalu saya telpon embassy UK untuk memastikan, ternyata mereka tidak menerima pengurusan visa Mauritius. Lalu saya bertanya lagi ke teman yang lain, mereka bilang visa Mauritius bisa diurus di Singapore, mereka punya kedutaan disana. Tapi saya pikir-pikir "Aahh paling juga nanti kalo saya ke Singapore dan ngurus disana mereka bakal minta Permanent Resident seperti syarat lumrah pengurusan visa manapun di luar negeri". Akhirnya saya batalkan niat mengurus visa ke Singapore. 

Website resmi Mauritius juga tidak memberikan banyak informsi. Mereka hanya mencantumkan alamat email dari kedutaan mereka di berbagai negara. 
Website kedutaan Mauritius klik disini
Saya mencoba mengirimkan email ke beberapa alamat email yang ada diatas, namun baru mendapat respon 3 hari kemudian. Karena gemes dengan embassy Mauritius yang slow respon banget dan waktu pengurusan visa yang sudah mepet akhirnya saya telpon embassy Mauritius (nomernya ada difoto atas, jangan lupa cantumkan kode 01017 + No telp, biar hemat). Dari hasil percakapan, mereka berjanji akan mengirimkan persyaratan pengurusan visa segera. Menunggu email dari mereka serasa menunggu jodoh - lamaa, melelahkan, dan jauh! Keesokan harinya saya menerima email dari visa section. Di email tersebut mereka menjelaskan dokumen-dokumen yang wajib dilampirkan untuk pengurusan visa Mauritius.


Butuh waktu 2 hari untuk saya mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Setelah semuanya dirasa komplit, dengan rasa percaya diri saya mengirimkan berkas visa saya melalui email. Sehari menunggu, tak kunjung dijawab. 3 hari kemudian saya coba ganti alamat email lain dan ngemail kembali, tak juga di balas. 6 hari kemudian saya email lagi, masih tak juga di balas. Hari ke 12, karena alamat email yg saya punya sudah habis, saya kembali mengirim email lagi dengan alamat email yang pertama sembari dibubuhi curhatan-curhatan panjang. Karena saya curhatnya pake bahasa inggris, saya tuliskan curhatan saya dengan subtitle indonesia. #Hoeekk

"Yang terhormat kedutaan Mauritius di tempat. Ini adalah email ke empat yang saya kirimkan pada anda sejak dua minggu lalu. Penerbangan saya ke Mauritius tinggal 4 hari lagi. Semuanya sudah saya persiapkan mulai dari tiket pesawat, bookingan hotel, print'an tempat-tempat wisata yang nantinya akan saya kunjungi disana. Tegakah kalian menghancurkan semua mimpi saya tentang Mauritius?? Sekejam itukah kalian?? TOLONGLAH! Balas email saya sekali saja"

*email ini disertai emot nangis. #IniSerius. Beberapa jam setelah curhatan tersebut akhirnya email saya dibalas hanya dengan 1 kalimat. #Jleb


Masalah selesai??? BELUM!!! Mereka perlu di therapy shock. Karena waktunya yg sudah sangat mepet akhirnya setiap hari saya telpon mereka untuk menanyakan perkembangan visa saya.

Tgl 18 Okt : Application already received and visa under still process
Tgl 19 Okt : Membantu rendy mengirimakan visanya yang selalu gagal
Sampe 30kali kirim gagal terus. Sudah diemail ke beberapa email embassy yg lain juga gagal terus. Akhirnya file pdfnya dipisah-pisah dan berhasil

Tgl 19 Okt : Menelpon kembali dan menanyakan status visa. Jawabannya masih tetap sama "Visa lagi di proses"
Tgl 20 Okt : Menelpon lagi. Sampai dia hapal suara saya tanpa saya perkenalkan diri. "Oohh madam hanna, don't worry!! I will send your visa tomorrow! Don't worry, don't worry!
Tgl 21 Okt : Menelpon lagi. Baru juga ngomong hallo, dia udah nyeletuk : "Madam, I already sent your visa. Welcome to Mauritius. Hahaha. You look so happy, hahhahah", katanya sambil ketawa-ketawa sendiri. Ntah dari mana dia tau kalo saya senang" -_____-

"Thankyou sir, I Got it. But my friend not yet"

Ohh you mean Mr Putra?? Oke oke oke. Don't worry. Don't worry. Wait wait!! I will send his visa now. You can check your email 5 minutes later. Hahahhaa.. You look so happy, Hahhahah", Katanya lagi -____-

5 menit kemudian akhirnya urusan visa beres. Ppfffttttt..

Baiklah, akhir kata saya akan menjelaskan semua prosedur pengurusan visa Mauritius:

  1. Formulir aplikasi visa bisa di download disini!!
  2. Dokumen yang dibutuhkan : Form/aplikasi visa yg sudah ditempel foto dan ditandatangani, Scan paspor yg berisi biodata, bookingan tiket pesawat (keluar dan masuk indonesia) dan bookingan hotel terkonfirmasi, rekening tabungan dengan saldo minimal 100 usd perhari x jumlah hari tinggal di Mauritius. Semua dokumen dijadikan dalam 1 file pdf dengan ukuran tidak lebih dari 15 MB. 
  3. Alamat email pengiriman visa : piovisa@govmu.org, No telpon pengurusan visa 010172302109312 (01017 itu kode nomer keluar negeri dengan biaya hemat). 
  4. Embassy Mauritius itu pelit banget. Mereka memberikan izin tinggal sesuai jumlah hari yang kita tuliskan di aplikasi. Saya kmaren nulis cuma 5 hari, terus dikasih 7 hari dan single entry.
  5. Enaknya, visa Mauritius GRATIS!!! Uwoowooo 
  6. Setelah ngirimkan email jangan lupa untuk rajin-rajin nanyain lewat email atau telpon, karena mereka bener-bener slow respon

Sekian yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat. Sampai jumpa di Mauritius :)