Minggu, 26 Oktober 2014

Pertama Kali Ke Luar Negeri

,
Semua yang 'pertama' pasti mengesankan. Pacar pertama, ciuman pertama, hamil anak pertama, malam pertama. #eeh. Seperti halnya pengalaman pertama saya ke luar negeri juga sangat mengesankan dan ga mungkin bisa dilupakan. Saya pertama kali menginjakkan kaki ke luar negeri (Singapur) tahun 2004. Waktu itu saya masih ABG labil, baru tamat SMA, masih lucu-lucunya, tentu saja belum kerja, dan juga belum kuliah. Tahun 2004, untuk mendapatkan informasi tidak segampang sekarang, waktu itu milis yang membahas tentang perjalanan juga belum sebanyak sekarang. Saya juga sama sekali belum mengenal istilah backpacker, pejalan mandiri atau apalah saat itu. Media sosial yang saya miliki satu-satunya juga hanya Frienster dengan nama akun "h4nn4 c3l4l0e b4h49!a. Oiya tahun 2004 facebook uda rilis belum ya? sepertinya belum, atau kalaupun sudah, saya belum punya akun facebook saat itu -___-

Tahun 2004 hp yang saya miliki Nokia 3315. Di jaman itu remaja-remaja labil sebaya saya belum mengerti selfie. Kehidupan dijaman itu masih sangat indah. Masalah terbesar bagi remaja seusia saya saat itu hanyalah "Jika anda tidak mengidolakan Sheila on7 dan Westlife, anda akan dikucilkan dari pergaulan". Tidak lebih dari itu!!

Kesempatan pertama saya ke Singapura karena ditraktir seorang teman. Ongkos Dari Batam ke Singapur (kalau saya tidak lupa) sekitar 18 S$ atau 20 S$ (include tax). Tahun 2004 gaya orang Batam nakut-nakutin orang yang mau keluar negeri cuma dengan satu kalimat, yaitu: "Hanna, kalau paspor belum pernah di cap masuk singapur itu susah loh, ko harus bawa 'uang tunjuk' minimal dua juta baru boleh masuk, kalau ga bisa nunjukin uang 2juta siap-siaplah ko dikerangkeng" Yaa kali anak baru tamat SMA seperti saya punya uang 2 juta. Persebaran gaya menakut-nakuti seperti ini merata ke seluruh Batam. Untungnya teman saya agak cerdas. Kita coba aja dulu, han! Kalau ga dikasih masuk, yaudah tinggal pulang. Batam kan dekat!! Akhirnya berangkatlah kami berdua dengan semangat yang tak terpadamkan. 

Kami berangkat dari pelabuhan Sekupang pukul 12.30 siang, karena itu hari Minggu saya tidak bisa meninggalkan ibadah. Kami tiba di Singapur sudah sangat sore (pukul 3 sore waktu Singapur). Terus terang saya tidak punya uang sama sekali waktu itu. Teman saya meminjamkan 50$ nya kepada saya, wanti-wanti kalau disuruh nunjukin 'uang tunjuk'. Rasanya excited sekali. Kami mengisi form yang sudah diberikan sebelumnya di counter ceck-in dengan sangat hati-hati. Di form ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, misalnya :
"Have you ever been to Afrika in or South America during the last 6 days?"
"Have you ever used passport under different name to enter Singapore?"
"Have you ever been prohibited from entering Singapore?"

Let's answer 'No' for all the questions, Hanna! ucap teman saya dengan nada terbata-bata. Hahhhaaa. Belum lagi sampe di Singapur, dia uda songong ngomong pake bahasa Inggris. Saya kasih tau teman saya "Ko tau di Singapur ini orang ngomong pake bahasa Melayu-English, nada ngucapinnya juga jelas bukan begitu!

Setelah kapal berlabuh, kami lari-lari menuju imigrasi mengikuti orang yang juga lari-lari. Teman saya nanya "Ini orang kenapa harus lari-lari gitu ya? Saya jawab seadanya: "Ini Singapur woy Singapur. Memang gitu gaya orang Singapur, udah ayok kita ikuti aja cara main mereka!! Hahhahaha..

Di imigrasi petugas menanyakan beberapa pertanyaan, untuk tujuan apa datang kesini? Berapa lama? Nginap Dimana? Saya jawab pertanyaan petugas imigrasi dengan jawaban yang sangat percaya diri layaknya menjawab soal SPMB dan untungnya petugas tidak menyuruh mengeluarkan uang tunjuk. Terbukti 'Uang Tunjuk' hanyalah MITOS!!

Keluar dari imigrasi saya dan teman saling pandang-pandangan dan tosss!! Teriak histeris "Kita di Singapurrr, Han. Kita di Singapurr!! Camkan ini!!! Pelabuhannya aja Mall Han, Mall! Teriak teman saya sambil mengulang-ulang kalimatnya. Kami keluar dari harbourfront, berjalan menuju kekiri (Vivo City). Tahun 2004 mall sebesar Vivo City belum ada di Batam. Wajar kalau kami rada katrok. Jangankan tahun 2004, sampe tahun 2014 sekarang pun mall sebesar vivo belum ada di Batam. hahahaha. Tapi seingat saya mall itu dulu namanya bukan vivo city. Kami berjalan keluar menyusuri jalan kayu dan membayar 1$ untuk memasuki sentosa. Satu-satunya yang ingin kami cari hanyalah patung Merlion. Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat kami memasuki sentosa. Sudah berjalan sejauh itu namun kami juga belum menemukan patung Merlion. Sudah beberapa orang kami tanyain dan jawaban dari mereka selalu sama : "go straight - go straight - go straight" Ntaah lurus sampe kemana.

Karena terlalu lelah berjalan saya sarankan ke teman saya : "kita balek aja lagi ke tempat awal, jalan terus nanti kita bisa nyasar loh, sebentar lagi malam. Toh di Vivo  juga bagus koq. Lagian kalo kita bisa nemu merlion, kita bisa apa? Kamera ga punya. Orang-orang juga ga bakal percaya kalo kita udah ke Singapur, kalau ga bisa nunjukin fotonya". Akhirnya kami kembali lagi ke Vivo. Melihat kehidupan malam dilantai atas. Waktu itu tampak indah, sekarang biasa aja!! hahahah.. 

Jam menunjukkan pukul 7 malam, teman saya bilang : "Han, ko pulang duluan aja yaa, aku ga yakin Singapur ini cuma segini? Aku nginep semalem disini. besok aku pulang. Ini lagian di cap paspor tertulis kita boleh tinggal disini selama 30 hari". Jamannya baru lulus SMA itu polosnya saya ga ada tandingannya. Saya jawab teman saya: "Eeh ini negara orang, ingat ga tadi waktu petugras imigrasi nanya berapa hari disini, kita jawab apa? jawab sore uda pulang kan? Ko jangan sok gaya nipu-nipu petugas imigrasi. Nanti kalo ko diblacklist dan ga dibolehin masuk Singapur lagi gimana? Berani ambil resiko? Orang buang puntung rokok sembarangan aja di denda 3000 $. Bayangin kalo orang nipu petugas, dendanya berapa? Jawab saya dengan nada sok tau.

Akhirnya teman saya percaya dengan jawaban saya dan kami kembali ke Batam. Hahhahahahaha...

Pertama kali melihat kehidupan Singapura yang tertata rapi, bersih, dan orang yang berjalan dengan sangat cepat merupakan suatu pemandangan yang sangat mencengangkan bagi saya. Saya disadarkan bahwa ada jurang pemisah yang sangat besar antara kehidupan di Batam dan Singapur. Ini yang menjadi motivasi awal saya untuk terus melanjutkan travelling agar bisa melihat bagian dunia lainnya. 

Saya senang bisa melihat dunia yang  berbeda dari dunia saya sehari-hari. Tapi kadang saya juga berpikir "Ini anak-anak yang tinggal dinegara maju pasti hidupnya sedih. Mereka pasti ga tau permainan "Kami orang miskin, ya oma ya oma!"

Inti dari cerita saya diatas adalah:
"Tuhan tidak menetapkan 'term and condition' apapun bagi umatNYA yang benar-benar ingin melihat dunia ciptaan-NYA" 

NB: Ko (logat melayu Batam) artinya kamu.

Permainan kami orang miskin ya oma, ya oma itu persebarannya merata ke seluruh provinsi Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Papua, ga sih? Inti dari permainan ini adalah "Banyak anak banyak rezeki". Orang yang punya anak banyak dianggap Si Kaya dan orang yang punya anak sedikit dianggap si miskin. Nah, Si Miskin minta anak ke Si Kaya sampai Si Miskin berubah jadi Si Kaya dan Si Kaya berubah jadi Si Miskin. Gitu-gitu terus sampai ladang jagung menguning dan jadilah cococrunch. Karena permainan ini juga saya jadi paham kenapa bapak saya bisa punya anak sampe 7 orang, artinya bapak saya orang kaya. Hahhahah. Saya ngebayangin kalo permaianan ini dimainkan di negara-negara maju seperti di Singapura dan negara-negara Eropa yang notabene mereka hanya boleh punya anak maksimal 2 orang. Bisa jadi kita di bully karena permainan ini. Haahhahahaa...

3 comments to “Pertama Kali Ke Luar Negeri”

  • 26 Oktober 2014 18.44
    e.r.l.i.a says:

    Nama mallnya Harbourfront Centre. Sekarang nyambung sama Vivo :D.

    Masih mending dulu kamu dikibulin soal uang tunjuk. At least ada persiapan. Saya malah baru tau istilah uang tunjuk pas baca-baca thread di BD, hahahahhaah. Untung aja nggak pernah ditanyain pas dulu pertama kali ke KL sama SG.

    Saya juga baru tau kalo mainan itu namanya "Kami orang miskin, ya oma ya oma!", hahahahahahhaha. Dulu sering main. Tapi kata-katanya beda...

  • 27 Oktober 2014 08.58

    Wahhh seru bangettt ceritanya, bikin senyum2 hehehe...jujur sich aku mah belum pernah keluar negeri, nah pas masuk ke grup fb Backpacker jadi pengen dech..yg pasti pengen ke singapura liat patung Merlion.. hehehe...orang uda pada bosen aku mah lg ngidam ya hahaha...

    Btw itu maenan waktu masih Sekolah SD loch, sering main sama teman2ku(tiba2 berasa tuir) hahaha...

  • 28 Oktober 2014 18.43
    Una says:

    Sumpah gue gak pernah mainan itu Kak. Nggak pernah denger jugaaaa.
    Seru Kak, itu temanmu lebih polos dari dirimu ya wkwkwk... nurut balik Batam :P

    Aku pertama kali ke LN umur setahunan Kak, ke Spore, gara-gara emakku waktu mudanya suka jalan-jalan. Abis itu pas SD-SMA nggak pernah diajakin ke mana-mana aku, jadi pas diajakin ke Spore ama temenku cengok :P Nggak ngerti cara baca peta MRT T.T T.T Ndeso banget >,<

Posting Komentar

 

All about Me Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates