Selasa, 23 September 2014

Ekspektasi Tentang Sebuah Kota

,
Akhir-akhir ini gue lagi hobi memantau cerita-cerita perjalanan para member Backpacker Dunia di facebook. Ngelihat petualangan mereka yang sudah kemana-mana, kadang gue sering kecut dan ngerasa ternyata perjalanan gue belum ada apa-apanya. Tapi disisi lain juga, kisah-kisah mereka menjadi inspirasi gue untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh dari mereka. Bukankah Tuhan menciptakan dunia untuk kita kuasai dan tahklukkan? Kenapa kita ga berani melakukan perintahNya? #eeaakk. 

Disini gue pengen berbagi pengalaman ketika berkunjung ke beberapa kota. Pernah ga kalian berekspektasi terlalu tinggi terhadap suatu kota/negara yang akan kalian kunjungi? dan ternyata setelah berkunjung ke kota/negara tersebut kenyataannya malah jauh dibawah ekspektasi kalian? Atau sebaliknya, negara/kota yang kalian kunjungi jauh lebih baik dari ekspektasi? Gue sendiri sering ngalamin. Sering under estimate dgn sebuah kota, eh malah kebalikannya. Gue merupakan tipe orang yang paling males untuk googling sebelum mengunjungi suatu tempat, karena gue uda lama tersugesti oleh kalimat seseorang yang mengatakan : "Jika segala sesuatu direncanakan apa menariknya hidup? Rencanakan sebagian, sisanya biarkan menjadi kejutan". #Ciieee.
Jadilah setiap liburan yang benar-benar gue siapkan cuma tiket pesawat dan uang secukupnya. .

Beberapa hal yang pernah gue alami misalnya:
Dulu, ekspektasi gue tentang Bandung adalah "Kota Murah, kehidupan yang tradisional namun modern (ntahlah gimana bentuknya tradisional namun modern. haha), pusatnya sepatu, trade fashion, dingin, dll. Nyatanya kunjungan pertama gue ke Bandung jauh diluar ekspektasi.

Saat pertama kali tiba di Bandung gue dan teman naik becak untuk membeli makan malam. Jaraknya dekat banget. Kalo bahasa medannya "Lari-lari aja adek sikit, langsung sampe".
Bener-bener dekat, hanya sepelempar batu. Waktu itu tukang becaknya bapak tua berumur sekitar 50tahun'an. Gue bilang ke teman "Nanti kalo bapaknya minta 10rb kasih aja 20rb yaa, kasihan bapaknya udah tua". Sampailah kami dipenginapan dan teman gue nyodorin uang 20rb'an dan dengan PD'nya ngomong ke si tukang becak "Udah pak, ambil aja semua, ga usah ada kembalian" laah si Bapak jawab (sambil berakting ngos-ngosan) : Haduuhh ongkosnya 60 rebu atuh, mana dapet segini!! Mendengar si tukang becak ngomong gitu gula darah gue seketika naik. Tapi karena males ribut-ribut, dengan berat hati teman gue ngasih duit 60rb ke si Tukang Becak. Belum lagi waktu mesen makan, gue dan doi cuma mesan : sebungkus udang asam pedas, seporsi cumi goreng tepung, 2 bungkus nasi, 2 es jeruk dan 2 butir telur dadar. Sebelum membayar teman gue ngomong : coba kita tebak kira-kira berapa harganya? Gue jawab : "Paling mahal 75rb (karena menurut gue tempatnya hanya warteg dipinggir parit dan sangat sederhana). Teman gue bilang : Menurut ku 90rb'an. Dan setelah kami minta billnya ternyata harganya 157.000. Melihat billnya, gue terharu, teman gue juga kelihatan sangat terharu. Sampai dipenginapan (sebelum membuka bungkusan makanan yang kami beli) gue dan doi saling bertatapan lama sekali (namun tak saling bicara dan sepertinya hanya hati kecil kami yang bicara). Lalu kami saling menepuk pundak masing-masing. (Hidup ini keras, kita harus kuat begitu mungkin yang ada dibenak kami) Hahahhahaa...

Cerita lain lagi waktu berkunjung ke Nias. Ekspektasi gue tentang Nias memang tidak terlalu tinggi. Mengingat penerbangan ke Nias hanya ada 1 (waktu itu - dari medan) dan itupun gak setiap hari terbang (mungkin 3x seminggu). Dalam bayangan gue Nias hanyalah kota kecil dengan masyarakat yang masih sangat tradisional, objek wisata yang tidak terlalu banyak dan murah. Yang bikin gue penasaran dengan Nias hanyalah upacara lompat batunya. Dulunya gue kira upacara lompat batu di Nias itu terdiri dari sebuah batu (batu besar dan tinggi) yang kemudian dilompati rame-rame oleh warga sana. Nyatanya, lompat batu di Nias hanya sebuah tumpukan batu bata yang disusun agak tinggi dan dilompati oleh seseorang diiringi dengan tarian tradisional. Hehehee. Hal lain lagi waktu gue dan teman berkunjung ke Pantai Sorake dan Lagundri yang letaknya saling berdekatan, dengan alasan menghemat budged kami memesan indo*i rebus + telor (tanpa campuran apa2) awalnya gue sodorin duit 20rb. Nyatanya? Harga semangkok indomi telor di Nias 75rb. *Tepok perut ibunya*
Kata teman gue : "Wajarlah Na indominya mahal, belinya dari medan, ongkos ke medan aja uda 500rb. hahahhahaahahha

Cerita lain lagi waktu berkunjung ke Aceh. Ekspektasi gue tentang Aceh dulunya juga tidak terlalu bagus, karena seringnya lihat berita di TV tentang Gerakan Aceh Merdeka dan kerusuhan-kerusuhan serta dikenal sebagai kota dengan syariat islam yang tegas. Nyatanya gue salah. Aceh kereeenn sekali. Bagi gue Aceh merupakan salah satu kota yang recommended untuk liburan. Pertama, Aceh ternyata sangat aman dan sepertinya jauh dari pencurian. Sepanjang kendaraan yang terparkir dimanapun, kunci motor/mobil terpaut dikendaraan yang terparkir itu. Melihat pemandangan yang ga biasa seperti itu salah satu tmn gue nanya ke supir taksi yang kami tumpangi: "Pak, itu mobil dan motor kenapa semua dibiarin dengan kuncinya gitu? Ga takut ada yang maling apa?" Si Bapak dengan enteng jawab : "Siapa yang mau maling disini dek, kami disini kenal semua warganya dari ujung ke ujung, lagian kalo dia mau maling, mau dibawa kemana motor/mobilnya? Aceh ini kan dikelilingi laut? Dan disini hukuman untuk penjahat ga nanggung-nanggung, dicambuk, jadi warga ga ada yang berani". Kerrreeeeennn!!!

Begitu juga waktu kami berkunjung ke Sabang. Dibayangan kami pantai sabang pastilah pantai yang sangat indah, dengan deburan ombak dan pasir seputih kulit orang korea. Begitu sampai di Sabang kami sedikit kecewa karena pantai Sabang ga seperti yang kami bayangkan. Pantainya sama sekali ga menarik, garis pantainya kecil dan tidak kedengaran suara ombak sama sekali. Sambil menghibur teman saya bilang : Kita harus positif thinking, mungkin aja surganya ada dibawah sana (sambil nunjuk bawah laut) dan pantai yang bagusnya bukan didaerah sini. Ternyata ucapan teman saya benar. Surganya Sabang ada dibawah lautnya. Negeri bawah laut Sabang sangat bagus, terumbu karang yang subur dan berbentuk macam-macam (bahkan ada yang berbentuk batik sehingga disebut karang batik). Benar-benar keren. Belum lagi pantai sumur tiganya yang sangat bagus dan pantai-pantai lainnya. Belum lagi ada babi bernama Bro yang bebas berkeliaran tanpa taku disembelih (baca disini)

Udah segini dulu ceritanya, kapan2 disambung lagi. Ada yang pernah ngalamin seperti ini juga ga?? Share di comment box yaaa ^_^

5 comments to “Ekspektasi Tentang Sebuah Kota”

  • 26 September 2014 02.08
    AuL Howler says:

    Pernah sih.
    Tapi gak pernah separah mi seharga 75 ribu wkwkwk

    -_-

  • 28 September 2014 02.29
    Una says:

    APAAA? Apdet blog dirimu Kak? Hahaha... Mahal banget itu naik becak 60 ribuuuu >,<

  • 28 September 2014 19.04
    Sam says:

    Tiap kota memang punya kejutan-kejutan tersendiri, tetapi kalau naik becak 60 ribu itu sepertinya keterlaluan banget harganya :))

  • 28 September 2014 23.16
    Hana Ester says:

    Aul : Iyaa, padahal 75ribu bisa makan duren sepuasnya di medan -___-

    Una : Hahhahahhaa Kaget na??... Itu negaramu na, bandung!!! Mahaall

    Sam : Kasihan kan yaa :((

  • 4 November 2014 18.57
    depz says:

    becak 60rb?
    macam naik taksi aja :))

    trs itu indomie mahal kali bah :D

Posting Komentar

 

All about Me Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates